Jumat, 28 Desember 2012

hujan

hujan
rintikmu membias pada bulir padi yang mulai merunduk
sedari siang tak lelah kau menyirami
layaknya pundak yang terbiasa mendamba
dahi menempel atau serabut serabut masam yang bercerita
tentang sedihnya terhianati
hujan
anginpun tak membuat kata terhenti
layaknya hati yang sudah beku oleh pesonamu
tiada yang istimewa, hanya pesonamu yang mampu membuat
rasaku begitu
pesonamu yang begitu tenang
membuaiku dalam manisnya imaji
imaji akan dunia yang merindukan kedamaian
hujan
sungguh tak seorangpun merindukanmu
begitu juga aku
telah lama aku bercerita sendiri tiada teman
telah lama aku tak menengadahkan dahiku pada pundakmu
yang tak kekar namun menenangkan
telah lama aku merindukan celoteh-celoteh gurauanmu
yang membuat aku lupa akan sakitnya terhianati
hujan
jika aku telah pergi sebelum engkau datang
siramilah aku!
seperti pertama kali kau menyiramiku
dengan air kedamaian dan celoteh yang membuatku tersenyum

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar