di depanku orang-orang bergumul di kubangan seperti babi
menjulurkan lidah tanpa menghirup udara sebnarnya
kepala mereka itu sekedar berisi kotoran yang muncrat dimana-mana
yang tersisa adalah kedunguan saja
ah, hai mereka?
jangan tanya itu
tapi biar kujawab dengan sederhana
ialah batu yang bercokol tak bisa mengecap panas musim atau suara paling sumbang
ah, sekedar batu!
itu prcuma, hampir muntah
tapi tidak ada tempat untuk muntah-muntahku
sebab tangan mereka tersembunyi di balik kemalu-maluan mereka
katakan apa yang mmbuat mereka bisa musnah
ya, aku ingin mereka musnah!
my blog
Rabu, 12 Juni 2013
Kamis, 02 Mei 2013
puisi bayangan
bayang-bayang
gedung gedung di kotamu seperti menuduhku
telah melukai sejarah
dan air mataku hanya serupa pembersih kenaifan
darimana tangisan jatuh kalau bukan dari rindu?
bayang-bayangmu bersembunyi
dibalik reruntuhan malam
berdansa di atas sepi yang menebal di sampingku
kau bukan lagi benda asing
kau selalu baru di antara air mataku yang dingin
dan kotamu m asih angkuh menuduhku
waktu selalu meninggalkan keabadian
ku tengok daun-daun sejarah yang tertinggal di sana
ada kita tak punya kekuatan saling mencurigai
lalu saling menikam dengan ciuman dibawah matahari yang tua
diajarkan pepohonan dan langit
kita sepasang pengantin yang dinikahi cinta dan puisi
aku melihat bayangannya masih mesra di ujung kesepianki
kini, disini, di kotamu yang menuduhku
yang runtuh oleh rinduku
gedung gedung di kotamu seperti menuduhku
telah melukai sejarah
dan air mataku hanya serupa pembersih kenaifan
darimana tangisan jatuh kalau bukan dari rindu?
bayang-bayangmu bersembunyi
dibalik reruntuhan malam
berdansa di atas sepi yang menebal di sampingku
kau bukan lagi benda asing
kau selalu baru di antara air mataku yang dingin
dan kotamu m asih angkuh menuduhku
waktu selalu meninggalkan keabadian
ku tengok daun-daun sejarah yang tertinggal di sana
ada kita tak punya kekuatan saling mencurigai
lalu saling menikam dengan ciuman dibawah matahari yang tua
diajarkan pepohonan dan langit
kita sepasang pengantin yang dinikahi cinta dan puisi
aku melihat bayangannya masih mesra di ujung kesepianki
kini, disini, di kotamu yang menuduhku
yang runtuh oleh rinduku
Jumat, 28 Desember 2012
hujan
hujan
rintikmu membias pada bulir padi yang mulai merunduk
sedari siang tak lelah kau menyirami
layaknya pundak yang terbiasa mendamba
dahi menempel atau serabut serabut masam yang bercerita
tentang sedihnya terhianati
hujan
anginpun tak membuat kata terhenti
layaknya hati yang sudah beku oleh pesonamu
tiada yang istimewa, hanya pesonamu yang mampu membuat
rasaku begitu
pesonamu yang begitu tenang
membuaiku dalam manisnya imaji
imaji akan dunia yang merindukan kedamaian
hujan
sungguh tak seorangpun merindukanmu
begitu juga aku
telah lama aku bercerita sendiri tiada teman
telah lama aku tak menengadahkan dahiku pada pundakmu
yang tak kekar namun menenangkan
telah lama aku merindukan celoteh-celoteh gurauanmu
yang membuat aku lupa akan sakitnya terhianati
hujan
jika aku telah pergi sebelum engkau datang
siramilah aku!
seperti pertama kali kau menyiramiku
dengan air kedamaian dan celoteh yang membuatku tersenyum
rintikmu membias pada bulir padi yang mulai merunduk
sedari siang tak lelah kau menyirami
layaknya pundak yang terbiasa mendamba
dahi menempel atau serabut serabut masam yang bercerita
tentang sedihnya terhianati
hujan
anginpun tak membuat kata terhenti
layaknya hati yang sudah beku oleh pesonamu
tiada yang istimewa, hanya pesonamu yang mampu membuat
rasaku begitu
pesonamu yang begitu tenang
membuaiku dalam manisnya imaji
imaji akan dunia yang merindukan kedamaian
hujan
sungguh tak seorangpun merindukanmu
begitu juga aku
telah lama aku bercerita sendiri tiada teman
telah lama aku tak menengadahkan dahiku pada pundakmu
yang tak kekar namun menenangkan
telah lama aku merindukan celoteh-celoteh gurauanmu
yang membuat aku lupa akan sakitnya terhianati
hujan
jika aku telah pergi sebelum engkau datang
siramilah aku!
seperti pertama kali kau menyiramiku
dengan air kedamaian dan celoteh yang membuatku tersenyum
Sabtu, 04 Agustus 2012
kolaborasi with ghani (siapa aku)
kuukir malam di atas tangis
bulan terbalik mengeja apa yang sedang lelah di hatiku
namanya rindu, rindu yang luka karena tak melukai yang lain
kau kusebut salah satunya
namun kau acuh berlalu menjelmakan keacuhan pada yang lain
kini aku bersama yang terluka tinggal menunggu mati
kuukir malam di atas tangis
ia tetap tak mengerti
dan bulan belum menemukan siapa aku
entah berapa lama kita bernama manusia
disana cinta sekedar semiotik
di luarnya akupun tak sanggup menemukan manusia menerka duka
aku dan kita terjerembab dalam cantiknya maknanya
saking manisnya ada yang lupa bahwa aku dan kita juga manusia yang
punya derita
ah, biarlah, aku sembunyi mencari sendiri siapa aku
didalik ketidakpedulian mereka
bulan terbalik mengeja apa yang sedang lelah di hatiku
namanya rindu, rindu yang luka karena tak melukai yang lain
kau kusebut salah satunya
namun kau acuh berlalu menjelmakan keacuhan pada yang lain
kini aku bersama yang terluka tinggal menunggu mati
kuukir malam di atas tangis
ia tetap tak mengerti
dan bulan belum menemukan siapa aku
entah berapa lama kita bernama manusia
disana cinta sekedar semiotik
di luarnya akupun tak sanggup menemukan manusia menerka duka
aku dan kita terjerembab dalam cantiknya maknanya
saking manisnya ada yang lupa bahwa aku dan kita juga manusia yang
punya derita
ah, biarlah, aku sembunyi mencari sendiri siapa aku
didalik ketidakpedulian mereka
Jumat, 03 Agustus 2012
bapak tua ( kolaborasi with ghani)
bapak tua di sebuah cafe tanpa nama, duduk termangu,
sepasang kaos kaki kumal membungkus rapi kulit keriputnya,
mata berpasang-pasang dari berbagai penjuru,
dermaga melebur bisunya malam,
tapi tak mampu menjawab keinginan bapak tua
hingga melapuk keinginan itu,
udara tetap enggan di bilik jendelamu, menilik cerita
yang tidak berani ia sebut
sebab kau terlanjur cinta pada nakalnya hasratmu.
lalu pak tua itu tak punya tempat untuk menikmatinya
kecuali kesengaaraan
hilanglah ia, tertinggal seperti mimpi,
kau hapus di atas meja diskotik dengan tenggakan alkohol
entah berapa mimpi lagi baru kau akan percaya ini nyata?
aku tak tahu!
mimpi yang tak pernah usai
karena kau masih sibuk memikirkan apa yang belum tercapai
untuk libidomu
sementara di sana bapak tua sudah lupa
berapa hari ia mengeja perutnya yang dirobek lapar
mulutnya masih menganga ditepis harumnya
babi panggang yang kau santap
berlapis-lapis derita lama dihisapnya
sebab lama mencari tak kunjung juga didapatnya
sering tubuhnya digerogoti rakusnya kuasa
bahkan digeprak mati
tapi untuk apa peduli
tawa mereka menyatu menjadi santapannya
sakit juga pak tua......
sepasang kaos kaki kumal membungkus rapi kulit keriputnya,
mata berpasang-pasang dari berbagai penjuru,
dermaga melebur bisunya malam,
tapi tak mampu menjawab keinginan bapak tua
hingga melapuk keinginan itu,
udara tetap enggan di bilik jendelamu, menilik cerita
yang tidak berani ia sebut
sebab kau terlanjur cinta pada nakalnya hasratmu.
lalu pak tua itu tak punya tempat untuk menikmatinya
kecuali kesengaaraan
hilanglah ia, tertinggal seperti mimpi,
kau hapus di atas meja diskotik dengan tenggakan alkohol
entah berapa mimpi lagi baru kau akan percaya ini nyata?
aku tak tahu!
mimpi yang tak pernah usai
karena kau masih sibuk memikirkan apa yang belum tercapai
untuk libidomu
sementara di sana bapak tua sudah lupa
berapa hari ia mengeja perutnya yang dirobek lapar
mulutnya masih menganga ditepis harumnya
babi panggang yang kau santap
berlapis-lapis derita lama dihisapnya
sebab lama mencari tak kunjung juga didapatnya
sering tubuhnya digerogoti rakusnya kuasa
bahkan digeprak mati
tapi untuk apa peduli
tawa mereka menyatu menjadi santapannya
sakit juga pak tua......
Rabu, 01 Agustus 2012
puisi gabungan with ghani
karena kita terlalu pandai mendadaninya dengan keangkuhan
di bawah terik matahari itu, kita besandar menikmati ngerinya jus kelaparan yang ditenggak sebagian manusia.
cinta itu kita persembahkan jadi tumbal cafe dan kepuasan hasrat
sementara yang lain masih menganga menari merayakan derita yang tak punya perasaan
lalu, sebagian dari kenyataan diselimpung,
kitapun sulit paham, mana air mata
segalanya terbentur di tembok libido yang kasar dan tak tahu dosa
lalu sebagian dari senyum hanya hantu yang bangga disudut
atau berenang bangga di genangan air mata tanpa paham asinnya adalah manusia
Jumat, 20 Juli 2012
For You My Brother and Sisters
we're not the same
and we're different at all
we'll never be the same
but i believe
together we can fly
to reach the highest sky
do never think we can't gather
our wings to fly to the sky
do never think we can't fly
all my brothers, wake up!
all my sisters, stand up!
this time to move on
we can do everything together
and we're different at all
we'll never be the same
but i believe
together we can fly
to reach the highest sky
do never think we can't gather
our wings to fly to the sky
do never think we can't fly
all my brothers, wake up!
all my sisters, stand up!
this time to move on
we can do everything together
Langganan:
Postingan (Atom)